Rabu, 29 Januari 2014

Catatan dari Australia (1)

Perjalanan ke Adelaide dan Sydney, Australia
2-20 Februari 2011
(Bagian 1)

Pengantar. Ini catatan lama. Tanggal 2-20 Februari 2011 saya mendapat kesempatan  berkunjung ke Adelaide, Australia, untuk melakukan kajian dan dokumentasi naskah abad ke-19 milik seorang kolektor. Separuh dari 50 naskah koleksinya adalah Qur'an, berupa manuskrip dan cetakan (lihat: http://quran-nusantara.blogspot.com/2012/07/australia-sejumlah-quran-milik-seorang.html). Saya mengucapkan terima kasih atas kesempatan yang diberikan oleh The Barakat Trust dan orang-orang yang baik, sebelum dan sepanjang perjalanan, yaitu Ellen, Pak Shohib, James, Bona, Kak Nasser, dan Kak Iya. Budi baik mereka tidak akan saya lupakan. Mudah-mudahan catatan ini ada manfaatnya.
Saya, Bona, dan James di pantai "laut selatan" Australia.
Rabu, 2/2
Ini perjalanan yang tertunda. Bulan Juli tahun lalu (2010) saya sudah diberi izin oleh Pak Shohib, Kepala Lajnah, namun kemudian di-mansukh, karena mau ada pameran. Tidak apa-apa. Rabu ini mulai tidak masuk kantor, untuk siap-siap. Berangkat dari rumah pukul 2.30 siang, agar waktu cukup longgar untuk urusan di bandara. Pesawat yang saya gunakan adalah Qantas. Saya merasa beruntung mendapatkan tiket yang tidak mahal, seharga Rp7.000.000 pergi-pulang, hampir sama dengan keberangkatan pertama saya ke Adelaide lima tahun lalu, tahun 2006 – waktu itu dengan pesawat Garuda. Di samping tiket, saya menambah biaya lagi untuk asuransi perjalanan, Rp400.000, dan visa Rp970.000,-. Mengurus visa di Keduataan Besar Australia di Kuningan, Jakarta, tidak terlau sulit, meski harus melalui pemeriksaan ketat dan melewati berlapis-lapis pintu. Itu karena saya memiliki “surat sakti”, berupa undangan dari Art Gallery of South Australia untuk melakukan penelitian dan dokumentasi naskah Indonesia di sini.
Biaya untuk perjalanan ini saya peroleh dari The Barakat Trust, sebuah lembaga amal berbasis Islam yang berkantor di Universitas Oxford, Inggris. Biaya yang saya dapatkan tidak besar, hanya £1000, setara Rp13.000.000 saat ini (2011). Tentu saya tidak menjadi kaya dengan projek semacam ini. Tapi dari segi pengalaman, luar biasa bernilai. Uang segitu tentu tidak cukup untuk membiayai semua yang saya perlukan selama penelitian. Biaya hidup di Adelaide sangat mahal. Ini menjadi mungkin, karena biaya kehidupan saya selama di Adelaide ditanggung oleh teman baik saya, James Bennett, kurator seni Asia di Art Gallery of South Australia di kota provinsi ini. Saya bertemu dengan dia pertama kali pada 2004, ketika persiapan pameran Crescent Moon: Islamic Art and Civilization of Southeast Asia (Bulan Sabit: Seni dan Peradaban Islam di Asia Tenggara) yang diselenggarakan di dua kota di Australia, Adelaide dan Canberra, 2005-2006. 
Nilai tukar ke dolar Australia sekitar 9.000 rupiah (2011), tidak begitu jauh dengan nilai dolar Amerika saat ini, sekitar Rp9.700. Di bandara saya menukar uang Rp3.000.000, hanya mendapatkan AUD$325. Sedikit sekali ya?
Pesawat berangkat tepat waktu, pukul 20.40 malam.

Kamis, 3/2
Pesawat tidak langsung ke Adelaide, tetapi transit di Sydney, sekitar pukul 8.00 pagi. Perjalanan memakan waktu hampir tujuh jam. Dalam penerbangan bisa tidur, selama sekitar 3 jam. Jadi rasanya masih ngantuk. Rupanya pesawat dari Sydney ke Adelaide mundur sekitar satu jam, hingga sampai di Adelaide pukul 2 siang. Perjalanan dari Sydney ke Adelaide memakan waktu sekitar satu setengah jam.
Kota Adelaide dari pesawat.

Di bandara Adelaide saya sudah ditunggu oleh James, dengan asistennya yang baru saya kenal, Russell Kelty (dipanggil Rusty), orang Amerika yang sedang sekolah di kota ini dan bekerja di Art Gallery. Ia bergabung dengan James sejak 3 tahun lalu. Kedua orang itu baik sekali – begitu juga banyak orang yang saya temui di sini. Tidak berlebihan, karena saya sering diperkenalkan dengan kawan-kawan James, dan kebanyakan ramah. Sayangnya, bahasa Inggrisku yang tidak lancar membuat komunikasi terganggu. Saya kadang-kadang bilang, “Sorry my English is poor.” Jawab mereka, “No, your English is good. No problem.” “Good good apaan!” pikirku.
Begitu masuk mobil, saya ditawari, apakah mau ikut ke kantor atau diantar pulang ke rumah, dan sendirian menunggu sampai James atau Bona pulang. Bona adalah kawan James, orang Malaysia keturunan Cina yang dulu sekolah, dan sekarang bekerja di kantor pemerintahan di sini. 
Nah, saya merasa ngatuk, karena di pesawat Jakarta-Sydney tadi malam saya kurang tidur. Akhirnya, daripada menunggu di kantor James beberapa jam – karena dia ada rapat sampai sore – saya memilih diantar ke rumah saja, sekitar 30 km dari pusat kota. Yang membawa mobil Rusty, karena James tidak bisa menyetir. Setelah ‘diperkenalkan’ dengan semua ruang di rumahnya, James kembali ke kantor. Tampak James percaya sekali dengan saya. Saya ditinggal sendiri di rumahnya. Saya ditempatkan di kamar tersendiri, dengan pemandangan jendela sebuah pohon yang berbuah kecil-kecil seperti kecik. Cukup nyaman. Di rumah ini banyak buku-buku seni. Lalu saya mak bleg, tidur selama tiga jam lebih. Ketika saya bangun, kaget, karena Bona sudah ada di ruang depan. Tadinya saya khawatir dia tidak bisa masuk. Rupanya dia lewat pintu lain, pintu garasi.
Rumah James (2011). Tapi sekarang sudah pindah ke tengah kota, tidak jauh dari kantornya.

Rumah James terletak di kawasan perumahan. Tidak sempit, di atas tanah 700 m persegi. Bagian depan tidak berpagar, dengan banyak pohon – yang tampak tidak terurus. Agak anehnya, batas antarrumah di sini hanya berupa pagar seng setinggi 1,5 m. Kata James, pada umumnya orang masih merasa aman meski dengan pagar tidak permanen seperti itu. Memang pernah ada pencurian, tetapi jarang terjadi.
Setelah James pulang, sekitar pukul 7 malam kami keluar rumah, dengan sedan VW putih, untuk makan malam. Sekarang musim panas, jadi siang lebih panjang. Matahari terbenam sekitar pukul 8.15 malam. Jadi pukul tujuh malam masih ada matahari. Kami keluar menuju arah pantai, rupanya ke restoran India, bernama “Harvest of India”. Kami makan masakan India, yang sepertinya mirip dengan masakan Aceh, yang banyak bumbu. Hari sudah gelap ketika kami keluar restoran.
Dalam perjalanan pulang, pemandangan yang agak berbeda, yaitu banyak toko-toko yang tidak ditutup dengan rolling door, bahkan diterangi dengan lampu, sehingga semua barang di dalamnya terlihat jelas. Rasanya ini tidak terjadi di Jakarta – atau di Indonesia pada umumnya – karena biasanya bahkan memerlukan berlapis pengamanan.
Bona sempat mampir di sebuah toko persewaan video untuk mengembalikan beberapa keping film yang dipinjamnya. “Apa di sini ada orang yang menjual VCD bajakan?” tanyaku. “Di sini tidak ada orang yang membuat VCD bajakan. Kalau ada, pasti akan segera ditangkap polisi,” kata Bona tersenyum.  Rupanya dia juga membelikan kartu SIM baru untuk saya. Harganya $30. Berarti sekitar Rp270.000. “Wah cukup mahal! Di Jakarta hanya sekitar $1 atau $2, bahkan kadang-kadang ada yang 10 sen!” kataku. Dia terperanjat, geleng-geleng.
Kami semua merasa capek, dan sesampai di rumah, kami semuanya tidur lelap sampai pagi.

Jumat, 4/2
Kami keluar rumah, menuju kantor James dan Bona di pusat kota Adelaide, agak awal, pukul 6.30 pagi. Dalam perjalanan, pemandangan tampak semua berbeda. Rumah-rumah di sini tampak pendek (dibanding di Indonesia), simpel, tapi tertata. Rumah-rumah dibuat pendek, rupanya untuk mengantisipasi dinginnya udara pada musim dingin. Masuk akal. Bumi Australia kering, dan lapisan tanahnya tipis. Sementara bagian bawahnya adalah bebatuan. Pada musim panas seperti ini rumput-rumput mengering, seperti mati. Katanya, pada musim dingin, semua rumput itu hijau, indah sekali, seakan-akan merupakan tanah subur. Pohon yang paling banyak tumbuh di sekitar jalan raya adalah pohon jenis kayu putih. Kata James, ini adalah pohon asli Australia, yang tahan kering. Jenis pohon lainnya adalah cemara, dan jenis-jenis lainnya yang pada umumnya bisa tahan air.
Di jalanan.

Mobil diparkir di rumah Bona di kota, yang ia sewa, tidak jauh dari kantornya. Dari situ kami berjalan kaki lagi. Bona sampai di kantornya lebih dulu, di sebuah kantor Pemerintah Daerah Australia Selatan. Orang berkewarganegaraan asing seperti dia, kalau sudah mendapatkan permanent residence, bisa bekerja di kantor pemerintahan. Saya dan James melanjutkan jalan kaki sampai di Art Gallery.
Rupanya kami datang pertama di kantor itu. Tidak lama kemudian kami keluar, dengan taksi, karena harus bertemu dengan Michael Abbott, kepala Dewan Pembina Art Gallery, seorang kolektor hebat, pengacara terkenal di kota ini. Ia bergelar QC, katanya suatu gelar yang bergengsi untuk pengara di sini. Kata James, ia sudah menyumbang sekitar Rp30 miliar ke Art Gallery. Pak Michael terlihat sendiri di rumah. Ia menyiapkan sendiri kopi untuk kami dan membawanya ke meja – sama seperti dulu, 5 tahun lalu ketika kami bertamu dan dia menyiapkan sirup dan es sendiri. Tidak ada pembantu! Pak Michael juga memperlihatkan koleksinya yang lain, berupa mangkuk-mangkuk dan beberapa pedang tinggalan bawah air dari perairan Tuban, beberapa kotak pecahan-pecahan keramik dari Troloyo (sekarang sedang dikaji Rusty untuk thesis masternya), nisan batu besar dari Manado, beberapa menhir dari Jeneponto, dll. Dari rumah Pak Michael kami membawa 3 dus lebih naskah yang akan menjadi objek kajian saya. Tiga dus itu ditaruh di ruang perpustakaan, dan saya diberi  satu meja untuk memulai tugas.
Rusty mengajak saya ke ruang fotografi di lantai bawah. Wah, kebetulan. Di sini ada banyak koleksi yang mau dipamerkan, dan difoto terlebih dahulu. Ada kamera EOS 1, lampu studio, komputer, dll. Tempat penyimpanan jenis lukisan yang terdiri atas saf-saf vertikal, sangat menarik. Saya kira itu contoh yang baik.
Saul di ruang fotografi.

Pada waktu makan siang Bona datang ke Art Gallery dan mengajak saya makan siang di rumah makan halal. James ternyata tidak bisa makan bareng, karena dia harus makan siang dengan tamu dua orang tua penting (yang kata James sudah mulai pikun). Penting, karena kedua orang itu telah menyumbang banyak uang untuk pembelian koleksi. Menemani dan menyambut tamu, juga ‘merayu’ orang kaya agar mau mengeluarkan uang, merupakan tugas penting kurator.
Rumah makan halal ini katanya dikelola oleh pelajar Malaysia. Memang pelayannya semua berkudung. Masakannya seperti di Kuala Lumpur, banyak bumbu, seperti masakan Aceh atau Padang. Tapi citarasanya berbeda, dan sebenarnya saya kurang suka. Saya makan dengan ayam, dan Bona makan dengan rendang dan sawi. Untuk dua piring makan kami, dan sebuah teh botol, harganya $25. Itu berarti sekitar Rp230.000. Mahal juga ya? Saya pikir, kalau di Jakarta hanya sekitar 25 atau 30 ribu saja untuk dua piring ini. Lalu saya dan Bona ngobrol tentang perbedaan nilai uang itu. Saya ceritakan bahwa Rp3.000.000 = $325. Lalu saya katakan jumlah gaji saya dalam sebulan. Kata dia, gaji saya setahun sama dengan gaji dia sebulan! Wah, siwalan!
Habis makan siang, Bona kembali ke kantornya, dan saya ke kantor James. Lalu saya ke ruang kerja James. Ketika saya katakan saya mau salat zuhur, James dan Rusty keluar ruangan. Jadi merepotkan, ya? Memang ruangannya sempit saja, dan penuh buku-buku. Sebelum pulang, James mengajak saya untuk melihat ‘film seni’ dari Rusia yang sedang ditayangkan di Art Gallery. 
Keluar dari kantor, kami berjalan kaki menuju pasar untuk berbelanja. Jumat sore adalah hari yang ramai, karena banyak orang pulang kantor dan mulai bersantai. Kami melewati lorong pertokoan yang ramai, dan ada beberapa pengamen, yang mempertontonkan macam-macam keahlian. Tampak mereka profesional, seperti di sirkus. Ada yang main bola-bola, ada yang main biola, menari, main sepeda, dan lain-lain.
Di pasar James membeli daging besar, di toko daging halal. Harganya $28. Untuk ini, pikir saya, agak murah, dibanding harga daging di Indonesia. Pasar di sini bersih, meski pasar kebutuhan dapur yang menjual ikan asin sekalipun. Sebenarnya, soal kebersihan adalah semata soal kebiasaan. Pasar sayur di Kota Bharu di Kelantan, atau pasar kebutuhan dapur di Bandar Seri Begawan, Brunei, yang terletak persis di pinggir sungai di pusat kota, tampak bersih. Sungai di samping pasar itu bersih, tidak ada orang yang membuang sampah ke sungai. Sampah ada tempatnya sendiri. Di Indonesia, bagaimana tidak pedulinya kita dengan kotak sampah, saya pernah lihat di Banda Aceh. Sebuah rombongan baru saja berkunjung ke museum, dan mereka memperoleh penganan dalam kotak. Setelah memakan penganan itu, mereka meninggalkan saja semua kotak kosong itu berserakan di pelataran museum. Di sebelah pelataran ada bak sampah, dan saya penasaran untuk melihat isi kotak sampah itu. Tahukah apa yang terjadi? Tidak satu pun orang atau anak-anak membuang sampah ke dalam tempat sampah! Padahal ada ratusan kotak kue yang berserakan di pelataran itu. Ini cerita tambahan soal kebersihan lingkungan, yang sering membuat kita geram.
Lalu kami jalan melewati China Town (di mana-mana di dunia ini – katakanlah begitu – ada China Town, karena orang Cina ada di mana-mana), dan mampir di bar untuk minum. Mereka minum light beer, dan saya minum soft drink. Setelah itu kami makan di restoran Cina langganan James dan Bona pada Jumat sore. Kami memesan nasi, ikan, serta udang yang dimasak dengan kara (sayuran jenis kacang-kacangan). Enak, semuanya enak – apalagi gratis! 
Lalu kami pulang, dan tidur.

Sabtu, 5/2
Pagi, hari libur ini, James dan Bona mengajak saya jalan-jalan. Mengendarai sedan VW, kami menyusuri jalan-jalan lapang sekitar kota menuju Willunga (dibaca ‘Walangga’) – sebuah nama asli Aborigin – kota kecil sekitar 25 km dari rumah. Nama-nama daerah di Australia banyak yang menggunakan nama asli Aborigin seperti itu. Di sini kami makan pagi di sebuah restoran kecil yang merupakan bekas gereja yang didirikan pada 1867. Cukup tua. Di sini banyak gereja yang beralih fungsi. Bahkan, kata James, ada bekas gereja yang menjadi toko pakaian dalam ...
Saya makan omlet besar, dan mereka makan sejenis berger. Enak. Sehabis makan kami jalan kaki menyusuri jalan menuju sebuah pasar kaget di sebuah perempatan di tengah kota kecil ini. Kami melihat-lihat saja, tidak ada yang dibeli. Macam-macam barang dijual di sini, saya kira sama saja dengan di Indonesia. Bedanya, sekali lagi, salah satunya, soal kebersihan. Orang tidak sembarangan membuang sampah. Dan itu sudah menjadi kesadaran bersama, tidak diserahkan kepada petugas kebersihan.

Pasar kaget di Willunga.

Di tengah pasar kaget ini ada pengemen, orang tua yang bernyanyi sambil bermain gitar. Di kotak gitar yang dibuka untuk wadah koin para simpatisan, di sebelah botol air minum, tertulis, “Help turn the water into wine”. Haha... Wine memang sebuah tradisi masyarakat Barat. Di sebuah tempat minum tidak jauh dari situ ada tulisan, “In wine there is wisdom, in beer there is freedom, in water there is bacteria.” Kata James, bagian pertama kalimat itu benar, merupakan kata pepatah kuno masyarakat Barat, namun selebihnya adalah plesetan.
Pengamen.

Setelah itu kami meluncur lagi, beberapa puluh kilometer, dan sampai di sebuah perumahan pinggir air (water front). Indah, dan tampaknya mereka tertarik untuk membeli. Namun daerah ini terlalu jauh dari kota tempat mereka bekerja, sekitar 90 km, sehingga mereka berpikir-pikir ulang. Apalagi di daerah Australia Selatan ini transportasi publik tidak banyak, tidak seperti di Sydney atau kawasan kota besar lainnya. James dan Bona lama sekali mengobrol dengan karyawan perumahan ini, seorang ibu tua – yang rupanya pernah, melalui sebuah yayasan, menjadi ibu asuh seorang anak bernama Budi, yang tinggal di Indonesia. Dia sendiri tidak pernah bertemu dengan anak asuhnya itu – suatu keikhlasan atas nama kemanusiaan, yang tidak diumumkan. Kata James, banyak orang di sini yang beramal seperti itu: mereka ingin memberi, dan itu membuat mereka merasa lebih berarti. Si Ibu tua itu hanya sekolah sampai umur 14 tahun, tapi sangat ramah dan baik hati. "Itu asli Australia," kata James, membanggakan negerinya.
Melanjutkan perjalanan, kami mampir di kota kecil Victor Harbour, dan minum kopi di sebauh kafe asal Jerman. Saya memilih capuccino, suatu pilihan yang gampang, dan sepotong kue. Ini adalah kota pelabuhan (bandar), tentu saja di pinggir laut. Indah. Di sebuah pertigaan di pusat kota ini, di bagian bawah kerekan tiang bendera, ada ‘prasasti’ yang menyatakan permintaan maaf orang kulit putih kepada penduduk asli Australia, orang Aborigin. Kata James, sejak sekitar 15 tahun lalu, juga pada acara-acara resmi, ada pernyataan maaf seperti itu. Pada lawatan saya ke Adelaide tahun 2006 saya sendiri pernah mendengar pernyataan maaf itu (dan asal usul kota pada masa pendudukan orang Aborigin), dibaca pada permulaan acara Festival Kota.
Sebuah sudut kota Victor Harbour.

Kami pulang, melewati kebun anggur yang sangat luas. Dari kejauhan tampak hijau menghampar, sangat kontras dengan kawasan lainnya yang pada umumnya sangat kering berbatu-batu. Rupanya daerah ini memang terkenal sebagai penghasil anggur. Di mana-mana jalanan cukup lebar, tertata rapi, dan lancar. Di jalan, James sempat bilang, “Kapan-kapan ajaklah istri dan anak-anak ke sini. Kasihan mereka, sudah dua kali ke sini, sendirian saja.” “Benar ya!” kataku. Ya, mudah-mudahan bukan sesuatu yang mustahil...

Sampai di rumah hari masih siang. James kemudian memasak daging sapi besar. Di Australia, kalau laki-laki tidak bisa memasak adalah hal aneh. (Lucu ya?)
Sore, James dan Bona mengajak saya mengunjungi temannya di pinggir kota Adelaide. Ia bernama Phillip, berumur 60-an tahun. Rupanya dia adalah seorang guide sukarela di Art Gallery untuk seni Eropa, khususnya Italia. Ia memang asal Italia, yang datang ke Adelaide sejak umur 14 tahun. Ia sudah 10 tahun menjadi guide sukarela. Bukan main. Dan ketahuilah bahwa guide sukarela itu tidak dibayar, sepeser pun! Tetapi, untuk suatu kerja yang tidak dibayar itu, banyak orang ngantri, dan banyak juga yang tidak lulus tes masuk! “Apa mereka tidak diberi uang transport?” tanyaku. “Tidak!” kata James. “Uang rokok? (Hehe, ini istilah asli Indonesia!). “Tidak!” kata James menggeleng.
Di Art Gallery banyak pekerja sukarela. Jumlahnya sekitar 120 orang – memang kebanyakan orang tua yang sudah pensiun. Mereka bertempat di beberapa bagian, ada yang menjadi guide, ada yang di information desk, dll. Mereka memang tidak setiap hari masuk. Guide sukarela, misalnya, hanya sekali atau dua kali masuk kerja dalam seminggu. Tetapi, ia harus disiplin masuk sesuai jadwalnya, dan di samping itu harus melakukan riset. Artinya, baca buku, dan selalu menambah pengetahuan untuk bidang yang menjadi spesialisasinya.
Ketika saya tanya tentang apa motivasi orang untuk bekerja sukarela, James mengatakan, ya mereka ingin memberi, lebih banyak memberi. Mereka sudah banyak memperoleh ‘berkah’ kehidupan selama ini, dan tibalah waktunya untuk mereka memberi. Di samping itu juga mereka merasa lebih eksis, sehingga merasa lebih berarti. Adapun untuk sukarelawan muda, pengalaman menjadi kerja sukarela di suatu tempat bisa lebih meyakinkan ketika ia melamar pekerjaan nanti.
Kembali ke Phillip. Ia orang yang sangat bersemangat, bicaranya meledak-ledak. Ia sangat bangga dengan Italia, tanah leluhurnya. Meski ia hanya sekali-sekali bertugas, ia hampir setiap hari pergi ke Art Gallery, ke perpustakaan, untuk riset. Di rumahnya yang tidak terlalu besar tapi nyaman, ia memperlihatkan kehebatan musik Italia. Ia menyetel video seorang penyanyi klasik Italia, perempuan, yang akan mengadakan konser di Adelaide dalam waktu dekat. “Tidak penting kata-kata apa yang dinyanyikan, tapi dengarkan, musiknya sangat menyentuh hati,” kata Phillip bersemangat. Ia juga bercerita tentang Pompei, kota yang berabad hilang tertimbun. Ia pernah ke Bali, dan di sisa usianya ia masih ingin berkeliling ke banyak tempat di dunia.
Kami keluar dari rumah Phillip sekitar pukul 10 malam. Sampai di rumah hampir pukul 11. Lalu tidur.

Ahad, 6/2
Hari ini agak santai. Pagi saya mulai menulis catatan harian ini, dan James melanjutkan pekerjaannya menulis artikel untuk penerbitan katalog seni Asia koleksi Art Gallery-nya, sementara Bona masih tidur. Siang, James dan Bona berbelanja dan saya terus menulis di rumah sampai mereka pulang.
Tidak lama setelah itu, di terik matahari, kami keluar menuju pantai yang tidak begitu jauh dari rumah, sekitar 5 menit perjalanan. Tujuannya adalah untuk merekreasikan anjing mereka, yang diberi nama Tudek. Mereka sangat sayang kepada anjingnya. Hampir setiap Minggu mereka bawa anjing itu ke pantai ini. Kalau tidak dibawa ke pantai, kata James, anjingnya terlihat lebih nakal. James mengingatkan saya agar membawa jaket, karena meskipun matahari panas, tapi angin bertiup dingin.

Pantai bersih, langit bersih.


Rupanya hari Minggu adalah hari bersenang-senangnya para anjing! Di sini banyak orang bawa anjing, dengan segala jenis dan ukurannya, berlarian ke sana kemari. Ada yang sebesar kambing, ada yang berbulu tebal, ada yang gundul, macam-macam.
Pantainya indah. Panas, sangat cerah, dan langit biru bersih. Tapi angin kencang, bisa dikatakan sangat dingin. Di pinggir pantai banyak batu-batuan besar.
Sampai di rumah masih terik, meski sudah jam 6 sore.  

Senin, 7/2
Senin pagi, kami bertiga berangkat agak siang, pukul 8 lewat. Kata Bona dan James, tidak apa-apa, karena sistem kerja di sini orang bisa mengatur jam kerjanya sendiri. Lama jam kerja adalah 8 jam kurang 10 menit. Jika seseorang datang terlambat, ia bisa mengganti dengan pulang sore lebih lambat, atau bisa juga diganti pada hari lain. Fleksibel. Saya berpikir, ini soal kepercayaan. Di sini orang saling percaya satu sama lain. Itu adalah substansi. Sementara, kita biasanya lebih mementingkan formalitas, dan belum ada kepercayaan antarorang. Jadi kita lebih mementingkan formalitas, upacara, kuantitas – bukan kualitas. Apakah mungkin kebanyakan kita (katakanlah demikian) itu belum bisa dipercaya? Hehe.
Setelah Bona memarkir mobilnya, kami bertiga berjalan menyusuri jalan-jalan kota menuju kantor James dan Bona. Bona berpisah lebih dulu. Sampai di kantor James, ia menawari saya apakah saya akan ikut rapat rutin Senin pagi. Kata dia, rapatnya tidak lama, hanya 15 menit. Saya bilang, kalau tidak mengganggu, saya ikut. Saya pikir, ini penting untuk dilihat. Peserta rapat adalah para profesional Art Gallery, berjumlah 27 orang – dari seharusnya 30 orang. Karena ini rapat rutin, dalam sekejap mereka bisa ngumpul. Sebenarnya memang inilah jumlah pegawai Art Gallery – namun tidak termasuk pekerja teknis yang bertugas mengangkut-angkut barang (berjumlah sekitar 6 orang), serta tenaga sukarela yang berjumlah 120 orang. Jadi, sebenarnya Art Gallery ini simpel. Memang agak berbeda dengan pola kerja kita. Di sini tidak ada sistem ‘anak buah’, misalnya seorang kepala bagian memiliki beberapa anak buah. Itu tidak ada. Kata seorang kenalan, di London juga seperti itu. Setiap orang bekerja sendiri-sendiri, mengurus diri sendiri, sejak bikin surat sampai merancang acara pameran besar. Jika diperlukan, paling ada seorang asisten.
Rapat memang hanya berlangsung singkat. Masing-masing orang melaporkan kegiatannya untuk minggu itu. Misal, hari Rabu, siapa ada kegiatan apa, atau ketemu siapa. Begitu saja, tidak lebih dan tidak kurang. Dan itu dilaporkan secara singkat, tapi santai, dan sesekali ada ledakan tawa. Misalnya, ketika Direktur pada hari Kamis nanti bertugas di Information Desk! Betul, direktur Art Gallery, orang tertinggi di kantor ini, punya jadwal melayani tamu di Meja Informasi! Memang tidak lama, hanya satu jam saja, 3 atau 4 kali setahun. Kata James, itu agar setiap orang, termasuk puncak pimpinan, memiliki kepedulian yang sama.
Kata James, dengan rapat begini masing-masing tahu kegiatan rekannya yang lain, saling peduli, dan sekaligus orang yang tidak pernah ada kegiatan akan malu dengan sendirinya. Pada awal rapat saya diperkenalkan oleh James, bla bla bla, bicaranya cepat. Nah, rupanya, banyak orang tertawa dengan nama saya, karena mereka sering dengar di tv teriakan-teriakan Allahu akbar. Tentu saja mereka tidak mengerti perbedaan Allahu Akbar dengan Ali Akbar. Wah! Saya sempat tanya kepada James, apakah ada yang mempunyai kesan bahwa nama saya dekat dengan terorisme? “Tidak,” kata James.
Selesai rapat, James mengambil ‘bulu ayam’ dan lap untuk membersihkan koleksi yang menjadi tanggung jawabnya, seni Asia. Wah! Di Indonesia ini tidak akan terjadi. Di sini, seorang kurator itu dipandang elit, hebat, terhormat, namun masih juga setiap Senin pagi membersihkan dan ngelap koleksi! Ini, kata James, adalah waktu untuk kurator mengecek koleksinya, di samping agar peduli dengan barang-barang yang menjadi tanggung jawabnya. Ia berkeliling dari satu ruang ke ruang lainnya, karena seni Asia mencakup beberapa ruang koleksi, ada koleksi seni Islam, Jepang, dan Asia Tenggara. Sebagian ruang ditutup karena sedang direnovasi. Ia mengecek dan membersihkan masing-masing benda, juga mengecek caption. Saya lihat ia juga mengelap bekas sepatu anak-anak yang menginjak alas pajangan koleksi.
James di ruang koleksi seni Islam.


Selesai mengelap, kami menuju kafe. Di kafe telah menunggu dua kurator lainnya untuk rapat sambil santai. Lalu muncul kurator lainnya, dan kurator senior, yang menjadi koordinator para kurator. Selama rapat sambil minum itu kurator senior, perempuan, berbicara panjang lebar, menyampaikan informasi dan koordinasi kegiatan. Di Art Gallery ini ada lima orang kurator, yaitu kurator seni Asia, seni Australia, seni Eropa, print and drawing, ....
Setelah itu kami menuju ke ruang kerja James di lantai 2. Tidak lama kemudian kami menuju ruang fotografi bersama dua orang fotografer Art Gallery, yaitu Saul (saya pernah bertemu pada 2005 di Jakarta) dan asistennya, Steward. Mereka menjelaskan mengenai fotografi koleksi. Tidak semua yang mereka jelaskan dapat saya cerna, karena fotografi sendiri ilmu yang rumit untuk tingkat lanjut. Tapi ada beberapa pengetahuan baru, atau menegaskan pengetahuan sebelumnya.
Menjelang makan siang kami keluar dari ruangan fotografi. James ada janji untuk makan siang dengan tamu. Sementara saya keluar mencari makan sendiri, ke tempat makan yang ditunjukkan Bona Jumat lalu. Selesai makan saya tidak langsung masuk ke Art Gallery, namun nongkrong di pinggir jalan, di depan gedung, yang bersebelahan dengan South Australia Museum. Antara gedung Art Gallery dengan jalan raya berjarak 25 m, ada bangku-bangku panjang dan pohon-pohon besar. Banyak orang jalan kaki, mahasiswa, dan orang tua, yang istirahat duduk di bawah pohon di depan Art Gallery dan museum ini. Bahkan ada yang glongsoran (tiduran) begitu saja di rumput. Di bawah terik, mereka tidak takut menjadi hitam, hehe.
The Art Gallery of South Australia, tampak depan.

Tempat nyaman untuk nongkrong di depan Art Gallery.

Di belakang Art Gallery terdapat Adelaide University, maka di sekitar sini banyak bersliweran para mahasiswa. Macam-macam penampilannya. Kita tahu, di negeri Barat (meskipun dalam kenyataannya Australia itu sebenarnya di timur) orang seakan-akan bebas berekspresi. Dan Adelaide dikenal multikultural. Jadi banyak macam gaya yang kita lihat: ada yang bercadar, ada yang bercelana sangat pendek, ada yang berkulit hitam, ada yang bermata sipit – segala macam ada. Perilaku sehari-hari orang juga berbeda. Nilai yang dipegang berbeda. Di dunia seperti ini, satu hal yang perlu: kita harus berbaik sangka. Kita perlu menjauhkan cara pandang sempit, yaitu cara pandang diri kita sendiri, dan memberi ruang yang seluas-luasnya untuk perbedaan. Ya, perbedaan. Kita tidak bisa mengukur orang lain dengan ukuran yang kita punya. Mari kita rayakan perbedaan. Sudah.
Kira-kira pukul 4 kami pulang, dengan taksi, karena membawa dua kotak naskah untuk saya foto di rumah James. Jaraknya cukup jauh, dengan taksi memakan biaya $70.

Selasa, 8/2
James berangkat kerja sendirian, karena Bona menginap di rumah yang ia sewa di kota. Sementara saya tetap tinggal di rumah untuk mulai memotret hari ini. Tapi rupanya ada masalah dengan laptop. Program EOS Utility dari Canon yang biasa digunakan untuk memotret naskah dari laptop tidak bisa bekerja! Saya coba-coba tetap tidak bisa. Bahkan saya coba install ulang, juga tidak bisa. Akhirnya saya sms James bahwa laptop saya ada masalah, dan dia bilang, besok dibawa ke kantor, untuk dicek oleh ahlinya.
Praktis hari ini tidak banyak yang saya kerjakan. Hanya menulis catatan harian, dan mencoba-coba memotret, yang gagal itu.

Rabu, 9/2
Begitu sampai di Art Gallery, James dan saya menemui bagian komputer. Orangnya baik, dan dengan sepenuh hati membantu. James sendiri agak kaget, karena dia kira orangnya cuek saja. Laptop dikutak-katik, tapi tetap gagal. Program diinstal ulang, gagal juga. Akhirnya dia punya usul untuk memakai laptop kecil milik Art Gallery, dan laptop yang saya bawa akan dia lanjutkan untuk dikutak-katik.
Ketika break pagi, jam 10, dengan janjian sebelumnya, ketemu dengan Kristin Phillip yang bekerja di ArtLab, sebuah lembaga konservasi benda seni, tidak jauh dari Art Gallery. Kristin pernah berkunjung ke Bayt al-Qur’an & Museum Istiqlal tahun 2007, dan tidak lama setelah itu dia mengajukan surat untuk membantu konservasi koleksi. Surat itu sudah saya sampaikan kepada pimpinan, namun tidak pernah dijawab hingga kini. Saya malu untuk mengingatkan dia tentang surat itu. Sebenarnya dia waktu itu mau membantu untuk pelatihan konservasi, dan dia mau mengusahakan dana sendiri. Sayang sekali tidak direspon dengan baik.
Di ArtLab, yang berfasilitas lengkap.



Di ArtLab saya ditemani Kristin sebentar, juga ketika melihat kain batik besurek dari Cirebon, tetapi dia ada pekerjaan lain, sehingga dia ‘menyerahkan’ saya kepada suaminya, Dustin (kalau tak salah), untuk menemani keliling ArtLab. Dustin bekerja di bagian patung, sedangkan Kristin di bagian tekstil. Setelah keliling ke beberapa ruang konservasi (lukisan, kertas, patung, packing), Dustin mengatakan ada janji dengan orang lain, sehingga saya harus mengakhiri kunjungan di ArtLab.
Saya keluar, menuju rumah makan halal langganan, berjarak sekitar 300 meter. Setelah makan saya tidak langsung kembali ke ruang James, tapi menuju South Australia Museum yang letaknya bersebelahan dengan Art Gallery. Saya memang belum pernah mengunjungi museum ini, meskipun gedungnya terletak di sebelah kiri Art Gallery. Saya keliling ruang-ruang pamer. Rupanya museum ini seperti museum etnografi, yang memamerkan koleksi aborigin dan suku-suku asli di Pasifik.  Saya mengambil semua booklet dan leaflet yang tersedia. Setelah itu nongkrong dan motret-motret di depan gedung museum dan Art Gallery.
 South Australian Museum.

Halaman depan.

Meja informasi.

 Ruang pamer.

Karena James bekerja sampai sore, jam 1.30 siang saya pulang sendiri dengan taksi, dengan cabcharge (kartu bayar taksi) dari James. Saya diantar ke tempat pangkalan taksi. Supirnya berasal dari India – rupanya kebanyakan supir taksi di Adelaide berasal dari India. Kami bercakap-cakap sebisanya. Dia sempat bertanya, “Berapa umurmu?” “45,” jawab saya. “Ah, Anda seperti masih berumur 30 atau 25 tahun!” [Eh, yang bener nih!] Biaya taksi cukup mahal, $60. Jarak kantor James ke rumahnya sekitar 30 km.
Sesampai di rumah saya langsung menyiapkan peralatan motret, dan kerja sampai jam 2 malam. Perlu diketahui, waktu malam pada musim panas agak pendek, karena matahari tenggelam pada pukul 8.30 malam. [Jadi, di sini salat asar boleh jam 7 malam!] Saya takut target motret semua naskah, 50 buah, tidak tercapai.
Memotret naskah di rumah James. Di sebelah kanan tampak tumpukan naskah tebal.

[Siapa bilang kalau ‘pergi-pergi’ itu enak? Yang ada adalah capek! Sebenarnya, ‘pergi-pergi’ (traveling) itu enak untuk dikenang, tapi sesungguhnya tidak enak untuk dijalani. Hanya, masalahnya, untuk bisa mengenang, orang harus menjalani dulu...]


Tidak ada komentar:

Posting Komentar