Jumat, 12 Oktober 2012

Qur'an Tanoh Abee, Aceh

Aceh 
Dayah Tanoh Abee, Seulimum, Aceh Besar

Apakah mushaf al-Qur'an itu bukan naskah/manuskrip? Maaf, pertanyaan ini perlu juga ditulis di sini, karena ada sebagian peneliti/penelusur naskah keagamaan yang (sering?) tidak memasukkan mushaf dalam hasil 'buruan'-nya, dan mengabaikan begitu saja di lapangan. Mungkin mereka beranggapan bahwa mushaf bukanlah teks yang unik, dan mungkin, pikirnya, semua mushaf toh sama saja teksnya: buat apa dicatat? Tentu sah-sah saja menganggap seperti itu, karena mungkin penelusuran mereka mempunyai tujuan tertentu. Tetapi, tidak memasukkan mushaf dalam kumpulan naskah, menjadikan gambaran tentang khazanah naskah menjadi kurang utuh! Akhirnya, cita-cita untuk dapat menggambarkan tradisi intelektual, juga aspek lainnya, yang berlangsung pada masa lalu juga menjadi kurang utuh. Mushaf (awas, harap dibedakan dengan Qur'an!), sebagai salah satu benda budaya sebagaimana naskah lainnya, tentu mempunyai banyak aspek yang bisa dipelajari, dan merupakan satu kesatuan bersama 'teman-teman' naskah lainnya. Lebih dari itu, di lapangan kita tahu, akses terhadap naskah itu seperti suatu keberuntungan, seperti suatu kesempatan: tidak akan datang dua kali! Jika kita di lapangan menemukan naskah, perlu dicatat dan didokumentasi saat itu juga (syukur dalam bentuk foto). Kita perlu melakukan apa saja yang bisa kita lakukan, sebab "lain waktu, lain cerita". Jika kita datang untuk yang kedua kali, belum tentu kita bisa mendapatkan kembali naskah yang sama!
Nah, tidak ada hubungannya dengan paragraf di atas, namun agak disayangkan juga, Katalog Naskah Dayah Tanoh Abee Aceh Besar (disusun oleh Oman Fathurahman dkk, Jakarta: Komunitas Bambu dll, 2010)  tidak memuat koleksi Qur'an yang dimiliki dayah tua nan penting ini. (Informasi selebihnya tentang katalog ini lihat http://www.manassa.org/main/publikasi/index.php?detail=20100802170545). Koleksi naskah yang diperikan dalam katalog setebal xxxiv + 374 halaman itu berjumlah 280 jilid naskah, terdiri atas 367 teks. Kategori kandungan isinya, yaitu ilmu al-Qur'an, hadis, tafsir, tauhid, fikih, tasawuf, tatabahasa, logika, sejarah, zikir dan doa, serta lain-lain. Terbanyak adalah fikih (99 teks), tatabahasa (78 teks), dan tasawuf (55 teks), dst. Penyusun tidak menyebutkan alasan mengapa naskah-naskah mushaf tidak disertakan dalam katalog yang penting dan hebat ini.
Halaman iluminasi awal mushaf koleksi Dayah Tanoh Abee.

Untungnya, kita tahu dari laporan penelitian mushaf yang dilakukan oleh Harisun Arsyad pada bulan Mei 2005, bahwa koleksi mushaf kuno dayah ini berjumlah 23 buah (lihat laporan penelitiannya, "Menelusuri Khazanah Mushaf Kuno di Aceh", Lektur Vol. 4, No. 2, 2006, hlm. 214-241). Sepenggal informasi ini penting, karena akses terhadap naskah - di mana pun - tidak selalu mudah bisa dilakukan. (Terkadang, untung-untungan.) Untuk judul naskah yang sama, mushaf al-Qur'an adalah naskah yang paling banyak disalin di dayah tua ini.
Di bawah ini adalah sebuah contoh dari mushaf koleksi Dayah (Zawiyah) Tanoh Abee. Mushaf al-Qur'an ini disalin di Mekah pada sekitar tengah abad ke-19. Kolofon di bagian akhir mushaf ini berbunyi:
Wa qad faraga min kitābati hāzā al-Qur’ān al-‘azīm qubaila zuhr yaum al-Jum‘at al-hādī wa al-‘isyrūn min Rabī‘ al-Awwal fī Makkah al-musyarrafah bi-yadi al-faqīr ilā Allāhi Abdul-Wahhāb Tanoh Abe sanat 1259 t-z-g allatī zuyyinat fīhā al-Masjid al-Harām. [Selesai penulisan Al-Qur’an yang agung ini menjelang zuhur hari Jumat 21 Rabiul Awal di Makkah yang mulia oleh yang fakir kepada Allah Abdul Wahhab Tanoh Abee tahun 1259 (Jumat, 21 April 1843) ... yang dihiasi di dalamnya Masjidil Haram.]

 Catatan kepemilikan di awal mushaf.


 Iluminasi tengah mushaf, awal juz ke-16. 



 Halaman iluminasi akhir mushaf.

 Kolofon di akhir mushaf.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar